PERCETAKAN SINAR BUANA (LAYANAN 24 JAM : HUBUNGI TELP. 0813 9900 2992)

Kondisi Industri percetakan saat ini

Industri percetakan saat ini dalam kondisi menyedihkan. Hampir semua perusahaan tergantung pada pesanan atau job order. Karena itu, perusahaan-perusahaan percetakan jangan hanya menggantungkan operasional perusahaan dari order.

”Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) harus kreatif mengupayakan ide-ide yang bisa dijual. Misalnya di Singapura, ambil contoh, yang mencetak satu produk misalnya brosur ada banyak perusahaan percetakan,” kata Dirjen Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan Gatot Ibnu Santosa, pada pembukaan Pameran Print Paper Pack Indonesia 2001 di PRJ, di Jakarta.

Menurut Gatot, perusahaan percetakan diminta untuk melebarkan sayap usahanya ke daerah-daerah setelah diterapkannya otonomi daerah (Otda). Mereka tidak boleh hanya berpaku pada order-order dari pemerintah tetapi harus kreatif dalam menjual idenya.
Industri percetakan, lanjutnya, diharapkan membuka wacana bahwa daerah-daerah memiliki potensi yang bisa digarap dan ia setuju jika di masa mendatang pameran-pameran digelar di daerah.
Gatot juga menegaskan, perusahaan-perusahaan percetakan harus memiliki daya saing. Meskipun harga-harga bahan baku naik tetapi hal itu jangan melemahkan daya saing karena konsumen saat ini mengejar harga yang paling murah. Dengan demikian perusahaan harus meningkatkan daya saingnya.
”Industri percetakan merupakan bagian yang terintegrasi dengan industri pendukung yakni bahan baku dan faktor-faktor lainnya seperti teknologi, SDM, dan lain-lainnya,” ujarnya.

Pasar Daerah
Sementara itu dalam acara yang sama, Ketua Umum PPGI, Fauzi Lubis, berharap order-order juga masuk ke daerah-daerah. Ia menilai bahwa perusahaan-perusahaan yang bagus di Jakarta adalah perusahaan-perusahaan yang besar atau memiliki produk sendiri. Sementara daerah tidak mampu mencetak. Karena itu perusahaan di Jakarta jangan hanya menggantungkan pada pesanan di Jakarta atau dari pemerintah semata melainkan harus berani menggarap pasar di daerah.
Fauzi juga mengeluhkan harga kertas yang sangat tinggi, sedangkan dolar AS sangat berfluktuasi terhadap mata uang rupiah. Ditambahkan, harga kertas saat ini US$ 450/ton, padahal hampir 70 persen dari bahan baku adalah kertas. ”Bagi kita dolar AS yang tidak jelas dipatok ini sangat merugikan karena tidak bisa membuat perencenaan ke depan,” ujarnya.
Menurut Fauzi, saat ini banyak anggota PPGI yang jumlah 6.000-an perusahaan yang menjual mesin-mesin cetak mereka akibat kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan. Menurunnya order-order baik dari luar maupun dalam negeri memaksa perusahaan melego mesin mereka karena dengan cara itu mereka mendapatkan keuntungan dari selisih dolar AS dan bertahan hidup. (rvs)

sumber [ http://www.sinarharapan.co.id/berita/0111/28/eko08.html ]